Minggu, 21 Desember 2014

PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK SISTEM KARDIOVASKULAR (PERKUSI)

PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK SISTEM KARDIOVASKULAR (PERKUSI)

PERKUSI
Pemeriksaan fisik diagnostik sitem kardiovaskular salah satunya adalah perkusi, perkusi adalah teknik pemeriksaan fisik dengan cara mengetuk permukaan dada dengan tujuan untuk menentukan batas-batas jantung. Pada penderita emfisema paru terdapat kesukaran perkusi batas-batas jantung. Selain perkusi batas-batas jantung juga harus di perkusi pembuluh darah besar di bagian basal jantung. Pada keadaan normal antara linea sternalis kiri dan kanan pada daerah manubrium sterni terdapat pekak yang merupakan daerah aorta. Bila daerah ini melebar, kemungkinan akibat aneurisma aorta(Delp and Meaning, 1966. Major Diagnostik Fisik, ECG, Jakarta).
Tekhnik :
Letakkan falangs terakhir dan sebagian falangs kedua jari tengah tangan kiri pada tempat yang hendak diperkusi. Ujung jari tengah tangan kanan diketukkan pada jari kiri tersebut. Gerakan bersumbu pada pergelangan lengan. Selesai tiap ketukkan, jari kanan harus diangkat kembali. Sebaiknya klien diperiksa pada posisi duduk/berdiri.










Perkusi dapat digunakan untuk menentukan keadaan dan batas paru :
1.      Agak menggendang = subtimpani: dung-dung-dung
a.       Rongga pleura mengandung udara sedang jaringan paru terdorong ke arah hilus
b.      Batas atas penimbunan cairan dalam pleura .
2.      Lebih resonan tetapi belum subtimpani = hiperresonan
a.       Deng-deng-deng. Misalnya inspirasi dalam (normal), emfisema, dan pneumothoraks ringan.
3.      Kurang resonan
a.       Deg-deg- paru kurang udara, misalnya: fibrosis, infiltrat, dan pleura menebal
4.      Redup
a.       Bleg-bleg-bleg paru-paru padat (konsolidasi) misalnya, infiltrat atau fibrosis berat serta edema paru (paru tertimbun air).

5.      Pekak
a.       Seperti suara perkusi pada paha, misalnya: tumor rongga pleura penuh cairan/nanah, tumor dipermukaan paru, fibrosis paru, dan penebalan pleura.
Batas paru dilakukan perkusi pada atas fossa supraklavikularis kanan- kiri dan bagian bawah dengan kriteria sebagai berikut:
1.      Iga ke-6/midklavikularis: iga ke-8 garis midaksilaris: iga ke-10 garis skapularis. Paru lebih kiri daripada kanan
2.      Batas meningkat pada anak, misalnya fibrosis konsolidasi, efusi pleura dan acites/tumor intra abdomen
3.      Batas menurun pada orang tua, emphisema dan pneumothoraks. Keadaan paru normal: suara resonan: dug-dug-dug.
Kita menentukan perkusi  untuk menetapkan batas-batas jantung.
1.      Batas kiri jantung
Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial. Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas jantung kiri. Dengan cara tersebut kita akan dapatkan tempat iktus, yaitu normal pada ruang intercostale V kiri agak ke medial dari linea midklavikularis sinistra, dan agak diatas batas paru-hepa. Ini merupakan batas kiri bawah dari jantung. Batas jantung sebelah kiri yang terletak disebelah cranial iktu, pada ruang costa II letaknya lebih dekat ke sternum daripada letak iktus kordis ke sternum, kurang lebih di linea parasternalis kiri. Tempat ini sering disebut dengan pinggang jantung. Sedangkan batas kiri atas dari jantung adalah ruang interkostal II kiri di linea parasternalis kiri.

2.      Batas kanan jantung
Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial. Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan thorak. Batas kanan bawah jantung adalah disekitar ruang interkostal III-IV kanan, di line parasternalis kanan. Sedangkan batas atasnya diruang interkostal II kanan linea parasternalis kanan. Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi perikardium dan aneurisme aorta. Kita ketahui bahwa pada emphisema daerah redup mengecil, tapi pada aneurisma aorta daerah redup jantung luas sampai kesebelah kanan sternum sekitar ruang interkostal II. Suara perkusi pada sternum pun menjadi redup. Pada efusi perikardium daerah redup jantung meluas terutama bagian bawahnya sehingga bentuknya menyerupai bentuk jambu.

















Daftar Pustaka




Bickley,Lynn S.(2003). Buku Ajar Pemeriksaan Fisik Dan Riwayat Kesehatan BATES. Edisi 8. Jakarta:EGC
Elsa. Pemeriksaan Fisik Kardiovaskuler. UGM. www.elsa.UGM.ac.id
Muttaqin, Arif. (2009). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta: Salemba Medika
Robertson, Douglas Nicol.(2014).Pemeriksaan Fisik Klinis.Edisi 13.Singapore: Churchill LivingStone Elsevier


Tidak ada komentar:

Posting Komentar